Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Disqus Shortname

Comments system

Slider

Pages - Menu

Featured

Kamis, 24 Maret 2016

Ayyasy

Aku adalah kheir Ayyasy anak dari sang penjual roti orang-orang di kampung memanggilku Ayyasy, aku hanya hidup berdua bersama ayah di desa ini, desa hurriyah namanya, ibuku telah dipanggil oleh yang maha Kuasa ketika usiaku masih belum mampu mengenali wajahnya, tapi kata ayah dia adalah wanita yang cantik dan baik. Keseharianku membantu ayah di pasar berdagang roti. Saat ini usiaku telah berada pada titik dimana seorang pemuda telah layak menikah. Tak tahu mengapa hari-hari yang kurasakan saat ini berbeda dengan hari kemarin yang tak hirau dengan kesendirianku, berbagai pertanyaan perilaku orang sekitarku pun telah terganti dengan topik yang lebih serius dan dewasa, semua kepolosan mereka tersisihkan. Dari yang dulu ngajak bermain menjadi sibuk dengan kerja keras, dulu bertanya tentang ayahku bgmn keadaannya namun sekarang malah ayah yang selalu menumpahiku pertanyaan tentang pujaan hati. Sudah adakah yang tertambat di hati ?  sepertinya ini manusiawi karena usia pemuda sepertiku di desa ini sudah layak mengganti status dari single menjadi double.  Dandanan rambutku hari ini mulai menyita waktuku, sisir kayu berwarna cokelat hadiah ayah di ulangtahunku yang ke 21 di hari senin kemarin, mulai saat ini akan setia mangkir di saku celanaku. Aku sih gak ganteng-ganteng amat but lumayanlah untuk seantero desa hurriyah aku termasuk coverboy menurutku. Hehe.
Seperti biasa ba’da shalat subuh keseharianku membuka kios roti milikku yang tak seberapa jauh dengan rumahku.
tepat pukul 7.30 aku membuka toko rotiku dan mulai sibuk mengatur tata letak jualan. selang beberapa menit.. tiba-tiba dari depan pintu toko terdengar ada seseorang.
“Salam alaikum … salam alaikum … “ suara pelanggan menyapaku yang sedang sibuk merapikan rak rotiku kala itu.
Wa alaikum salam warahmatullah … iya silahkan ..” jawabku. Tiba tiba ku mematung sesaat tepat di depan rak roti dekat pintu, ada hal yang membuat detak jantungku menggerutu bak derap langkah kuda perang yang berlari-lari dahsyatnya menggetarkan tatkala mataku sempurna melayar tak berkedip di hadapan pelanggan ini, tenggorokanku menelan hampa *cegluk.. kira-kira begitu bunyinya.
“Hey…” ia menegur sambil melambaikan tangan lembutnya lalu bertanya … “ roti yang ini enak gak ?
Pertanyaan itu membuatku sadar tatkala mataku menggeleda sisi kiri dan kanannya tak kujumpai sayap-sayap putih … asli … kirain bidadari gumamku dalam hati.
Eh … iya .. yang itu enak pakai slei sayap. Jawabku sambil menyipitkan mata.
Tiba2 lirik tawanya mengipas telingaku dan kutersadar… barusan salah omong tadi yah .... dengan wajah terpelongo dan malu sambil menggaruk kepala kuralat kataku yang tadi “eh… maksudnya slei nanas . loh kok jadi gemetaran begini yah ? heran sendiri dengan sikapku. Woles ayyasy gumamku memotivasi biar gak gerogi.
“iya… mau berapa potong ?” tegasku bertanya melawan gerogi.
“saya mau 2 potong saja yang slei isi nanas dan 2 potong yang isi cokelat” ..jawabnya
“loh.. Cuma empat potong ? nanti nyesal loh kalau gak beli banyak yang ini biasanya cepat habis sebelum dhuhur apalagi eneng sepertinya tinggal jauh dari sini”
“4 potong aja dulu nanti kalau udah dicoba dan enak saya akan kembali lagi”…jawabnya
“baiklah kalau begitu “ jawabku sambil membungkus pesanannya… ini neng semuanya  40 kis (nama mata uang di desa hurriyah).
Setelah membayar ia pun berterima kasih dan berlalu …
“ma sya allah, cantik betul wanita ini… Aaaah .. kenapa aku lupa tanyakan namanya… semoga besok ia kembali lagi. Akan kucatat hari ini sebagai hari pertamaku bertemu bidadari, rabu 11 januari pukul 7.47 waktu hurriyah.
Tak tahu mengapa semua tentang dia melekat kuat dalam ingatanku padahal baru hari ini kujumpa dengannya. Sepertinya mulai saat ini aku punya jawaban dari pertanyaan ayah tentang siapa wanitaku.
“siap ayah! Aku akan menceritakan ini kepadamu *semangatku sambil mengepalkan tangan 

Assalamu alaikum … ayah … ayah … kemana ayah ? gak ada orang di rumah…
Seperti biasanya  ku duduk di ruang tamu Sambil meneguk beberapa gelas air mineral yang tersedia di atas meja sambil menunggu ayah pulang.
“tuk tak … tuk tak…” *bunyi derap langkah
“Assalamu alaikum…”
‘waalaikum salaam wr.wb. ayah … ayah dari mana saja… ada yang ingin kuceritakan kepadamu” kataku memburu dengan torehan senyum khas.
Ayah : “ oh yah ? *sambil menaruh bahan adonan roti di lemari dapur…  sepertinya ada yang baru bertemu wanita cantik hari ini…” lanjut ayah
Ayyasy : loh! Kok ayah tahu ? *terheran-heran
Ayah : ayah kan pernah mengalami hal itu ketika seusia denganmu..

                                                                                                To be continued…

2 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

About