Aku adalah kheir Ayyasy anak dari sang penjual roti orang-orang
di kampung memanggilku Ayyasy, aku hanya hidup berdua bersama ayah di desa ini,
desa hurriyah namanya, ibuku telah dipanggil oleh yang maha Kuasa ketika usiaku
masih belum mampu mengenali wajahnya, tapi kata ayah dia adalah wanita yang
cantik dan baik. Keseharianku membantu ayah di pasar berdagang roti. Saat ini
usiaku telah berada pada titik dimana seorang pemuda telah layak menikah. Tak tahu
mengapa hari-hari yang kurasakan saat ini berbeda dengan hari kemarin yang tak hirau
dengan kesendirianku, berbagai pertanyaan perilaku orang sekitarku pun telah
terganti dengan topik yang lebih serius dan dewasa, semua kepolosan mereka
tersisihkan. Dari yang dulu ngajak bermain menjadi sibuk dengan kerja keras,
dulu bertanya tentang ayahku bgmn keadaannya namun sekarang malah ayah yang
selalu menumpahiku pertanyaan tentang pujaan hati. Sudah adakah yang tertambat
di hati ? sepertinya ini manusiawi
karena usia pemuda sepertiku di desa ini sudah layak mengganti status dari
single menjadi double. Dandanan rambutku
hari ini mulai menyita waktuku, sisir kayu berwarna cokelat hadiah ayah di
ulangtahunku yang ke 21 di hari senin kemarin, mulai saat ini akan setia mangkir di saku celanaku. Aku sih gak ganteng-ganteng
amat but lumayanlah untuk seantero desa hurriyah aku termasuk coverboy
menurutku. Hehe.
Seperti biasa ba’da shalat subuh keseharianku membuka kios
roti milikku yang tak seberapa jauh dengan rumahku.
tepat pukul 7.30 aku membuka toko rotiku dan mulai sibuk mengatur tata letak jualan. selang beberapa menit.. tiba-tiba dari depan pintu toko terdengar ada seseorang.
“Salam alaikum … salam alaikum … “ suara pelanggan menyapaku
yang sedang sibuk merapikan rak rotiku kala itu.
Wa alaikum salam warahmatullah … iya silahkan ..” jawabku. Tiba
tiba ku mematung sesaat tepat di depan rak roti dekat pintu, ada hal yang membuat detak jantungku menggerutu bak
derap langkah kuda perang yang berlari-lari dahsyatnya menggetarkan tatkala
mataku sempurna melayar tak berkedip di hadapan pelanggan ini, tenggorokanku
menelan hampa *cegluk.. kira-kira begitu bunyinya.
“Hey…” ia menegur sambil melambaikan tangan lembutnya lalu
bertanya … “ roti yang ini enak gak ?
Pertanyaan itu membuatku sadar tatkala mataku menggeleda sisi
kiri dan kanannya tak kujumpai sayap-sayap putih … asli … kirain bidadari
gumamku dalam hati.
Eh … iya .. yang itu enak pakai slei sayap. Jawabku sambil
menyipitkan mata.
Tiba2 lirik tawanya mengipas telingaku dan kutersadar… barusan salah omong tadi yah .... dengan wajah
terpelongo dan malu sambil menggaruk kepala kuralat kataku yang tadi “eh… maksudnya slei nanas . loh kok jadi
gemetaran begini yah ? heran sendiri dengan sikapku. Woles ayyasy gumamku
memotivasi biar gak gerogi.
“iya… mau berapa potong ?” tegasku bertanya melawan gerogi.
“saya mau 2 potong saja yang slei isi nanas dan 2 potong
yang isi cokelat” ..jawabnya
“loh.. Cuma empat potong ? nanti nyesal loh kalau gak beli
banyak yang ini biasanya cepat habis sebelum dhuhur apalagi eneng sepertinya
tinggal jauh dari sini”
“4 potong aja dulu nanti kalau udah dicoba dan enak saya
akan kembali lagi”…jawabnya
“baiklah kalau begitu “ jawabku sambil membungkus pesanannya…
ini neng semuanya 40 kis (nama mata uang
di desa hurriyah).
Setelah membayar ia pun berterima kasih dan berlalu …
“ma sya allah, cantik betul wanita ini… Aaaah .. kenapa aku
lupa tanyakan namanya… semoga besok ia kembali lagi. Akan kucatat hari ini sebagai
hari pertamaku bertemu bidadari, rabu 11 januari pukul 7.47 waktu hurriyah.
Tak tahu mengapa semua tentang dia melekat kuat dalam
ingatanku padahal baru hari ini kujumpa dengannya. Sepertinya mulai saat ini
aku punya jawaban dari pertanyaan ayah tentang siapa wanitaku.
“siap ayah! Aku akan menceritakan ini kepadamu *semangatku sambil mengepalkan tangan
Assalamu alaikum … ayah … ayah … kemana ayah ? gak ada orang
di rumah…
Seperti biasanya ku
duduk di ruang tamu Sambil meneguk beberapa gelas air mineral yang tersedia di
atas meja sambil menunggu ayah pulang.
“tuk tak … tuk tak…” *bunyi derap langkah
“Assalamu alaikum…”
‘waalaikum salaam wr.wb. ayah … ayah dari mana saja… ada
yang ingin kuceritakan kepadamu” kataku memburu dengan torehan senyum khas.
Ayah : “ oh yah ? *sambil menaruh bahan adonan roti di lemari
dapur… sepertinya ada yang baru bertemu wanita cantik hari ini…” lanjut ayah
Ayyasy : loh! Kok ayah tahu ? *terheran-heran
Ayah : ayah kan pernah mengalami hal itu ketika seusia
denganmu..
To
be continued…
Cover boy hurriyah... Cie...
BalasHapusCover boy hurriyah... Cie...
BalasHapus